Granit Xhaka, dari Pahlawan Menjadi Pesakitan

SAINT-ETIENNE, JUARA.net – Bagaimana rasanya memikul rasa bersalah kepada semua rakyat dalam satu negara? Tanyakan hal itu pada gelandang Swiss, Granit Xhaka (23). Pada Piala Eropa 2016, Xhaka seperti berubah dari pahlawan menjadi pesakitan bagi Swiss . Ia memulai turnamen dengan rapor mengesankan. Gelandang anyar Arsenal itu mendapatkan gelar Man of The Match dalam dua laga perdana Swiss di fase grup saat menghadapi Albania dan Rumania. Baca Juga: Goetze atau Gomez? Goetze dan Gomez! Jakmania Minta Maaf dan Ucapkan Janji Juventus Pilih Pengganti Morata dari Olympique Marseille? Xhaka juga menjadi salah satu raja operan di Prancis 2016. Sebagai distributor ulung di lini tengah, dia melepaskan rata-rata 104,3 passing per partai. Hanya, Xhaka menutup perjalanan dengan rapor buruk. Ia menjadi satu-satunya eksekutor yang gagal menunaikan tugas secara baik dalam babak adu penalti kontra Polandia di tahap 16 besar, Sabtu (25/6/2016). Bola hasil tendangan keras Xhaka meleset jauh di sisi kanan gawang Polandia. Swiss kalah 4-5 setelah bermain imbang 1-1 dalam waktu normal dan babak tambahan. Sang pemain pun merasakan rasa bersalah yang dalam. “Saya meminta maaf kepada tunangan saya, keluarga, sahabat, manajer, rekan setim, dan fans Swiss ,” ucapnya dikutip akun Twitter Squawka. Kontingen Swiss membela Xhaka. Mereka tak mau menuding dirinya sebagai kambing hitam kegagalan tim lolos ke perempat final. “Granit sangat profesional, jadi dia tahu cara mengatasi situasi ini. Semua orang bisa membuat kesalahan. Granit akan bangkit dan melupakannya. Saya harap dia akan mencetak gol di babak 16 besar Piala Dunia,” ujar rekan setim, Xherdan Shaqiri.

Sumber: Juara.net