Keresahan Warga Asli AS Dorong Kemenangan Trump

Jakarta – Sosiolog dari Universitas Nasional Jakarta, Sigit Rochadi menilai terpilihnya figur kontroversial, seperti Donald Trump, secara sosiologis karena ada kehendak dari masyarakat asli AS yang ingin mengembalikan kejayaan masa lalunya. Kejayaan dimaksud, mencakup dipulihkannya peran masyarakat kulit putih di sektor ekonomi dan politik. Pasalnya, penduduk asli yang berusia 50 tahun yang tinggal di pedesaan, mulai resah dengan perubahan yang terjadi di AS. Lapangan kerja diambil alih imigran Meksiko, Amerika Latin, dan Afrika. Kemudian muncul kelompok-kelompok Islam dari Timur Tengah yang mengambil alih porsi ekonomi. “Mereka menentukan pilihan seperti ini karena masuknya imigran yang membuat penduduk asli AS tersisih dan disingkirkan. Padahal mereka merasa sebagai pewaris yang sah di negara itu. Maka mereka memilih pemimpin yang bisa mengembalikan kejayaan,” jelasnya, saat dihubungi di Jakarta, Sabtu (12/11). Menurut Sigit, fenomena yang terjadi di AS dan Filipina, kemungkinan akan terjadi di Jerman. Pasalnya, Jerman sedang menghadapi kondisi yang sama, yakni hadirnya imigran, selain mengambil alih sektor ekonomi, juga mendominasi bidang sosial dan politik. Sigit menyebutkan, di AS, kehidupan politik mulai diisi orang bukan asli, seperti Barack Obama, dan beberapa kota yang dipimpin oleh warga keturunan Afrika, Eropa, dan Amerika Latin. “Ini membuat generasi tua kulit putih merasa khawatir masa depan AS di bawah Partai Demokrat akan tidak jelas, tidak ada identitas bagi AS. Maka, meski Trump hadir dengan penuh kontroversi, dia tetap menjadi harapan, khususnya warga asli AS,” ujarnya. Menurut Sigit, Trump merupakan pemimpin AS pertama yang memenangkan pemilu dengan moralitas buruk. Sebelumnya, warga AS memilih capres yang memiliki moralitas tinggi. Sedangkan, Trump dicurigai tidak taat pajak, tidak menghormati HAM, dan merendahkan martabat perempuan. “Namun karena besarnya keinginan mengembalikan kejayaan, Trump menjadi pilihan. Sebab kelompok tua menilai pemerintah saat ini terlalu lemah menghadapi imigran. Ini perubahan original yang nyata. Kelompok konservatif bangkit ingin mengembalikan kejayaan di masa lalu,” ujarnya. Senada dengan itu, sosiolog dari UGM Sunyoto Usman menilai, rakyat AS yang mendukung Trump yakin, dia mampu mengembalikan kejayaan AS. Secara terpisah, psikolog politik Universitas Indonesia Hamdi Muluk mengatakan, publik AS melihat Hillary tidak terlalu meyakinkan dan dipandang masyarakat sebagai bagian dari rezim lama. Hamdi menjelaskan, dunia melihat Trump seorang yang kontroversial dan menampilkan sikap negatif yang menyuarakan kebencian terkait ras dan agama. Namun, ada spekulasi yang menganggap hal itu hanya cara tampilan untuk membuat kampanyenya unik dan mudah diingat. “Ternyata faktanya dia lebih populer. Ada orang yang putus asa dengan Demokrat karena ekonomi melambat,” jelasnya. Ia berpandangan, Trump yang berlatar belakang pengusaha sukses, bisa mudah bernegosiasi dengan negara lain. Dengan alasan ekonomi dapat menciptakan win-win solution dan tidak ingin merugikan ekonomi AS. “Hanya yang dikhawatirkan, provokasinya dapat menyulut ketegangan hubungan internasional,” katanya. Psikolog Universitas Airlangga Cholicul Hadi melihat ada kekhawatiran yang berlebihan atas terpilihnya Trump. Ia menyatakan, AS telah memiliki kepastian hukum dan politik. “Masyarakat dunia pun memiliki harapan pada mereka selaku negara besar. Teori jejaring global tentu tidak terlepas dari politik, kebijakan dan hukum,” katanya. Maria Fatima Bona/Ari Supriyanti Rikin/ALD Suara Pembaruan

Sumber: BeritaSatu