Para Alumni Persib Ini Merayakan Persahabatan

Aktivitas pagi hari mulai terasa dengan keramaian para tamu. Sejumlah pemain Persib Bandung dan Pusamania Borneo FC hilir-mudik bejalan menuju ruang makan untuk sarapan. Beberapa pemain Bhayangkara FC dan Arema FC baru berdatangan dari Surabaya dan Malang.
Keempat tim itu memang menginap di hotel yang sama menjelang bergulirnya pertandingan babak 8 besar Piala Presiden 2017 pada Sabtu dan Minggu (25-26 Februari 2017). Perempat finalis lainnya ditempatkan di hotel yang berbeda meski jaraknya tak begitu jauh. Format laga tunggal di tempat netral pada fase ini membuat para pemain dari delapan kontestan berkumpul di satu kota, bahkan bisa saling bertegur sapa di hotel yang sama.
Tawa renyah dan pelukan bek Persib Bandung asal Montenegro, Vladimir Vujovic (34) menyambut pemain Bhayangkara FC Firman Utina (35) yang melangkah menuju ruangan lobi lobi hotel. Vlado, panggilan akrab Vladimir, langsung menanyakan kabar Firman dan keduanyapun mengobrol diselingi canda tawa. Tak berselang lama, Supardi Nasir (33) dan Achmad Jufriyanto (30) yang menggunakan kaus biru Persib Bandung bergabung menambah hangat suasana.
Mereka duduk santai di kursi berwarna ungu, melingkari meja kecil yang di atasnya berjejer rapi secangkir cappuccino hangat dan tiga cangkir teh peppermint panas. Sembari bercengkerama, sesekali mereka dengan ramah menyapa pemain lain yang melintas di selasar lobi, atau juga melayani tamu hotel yang ingin berfoto bersama.
Perbincangan dalam bahasa Inggris bercampur Indonesia mengalir liar tanpa pernah alpa dari tawa bahagia. Misalnya, kebiasaan Vlado, bule jangkung yang sebelumnya dijuluki “cola man” karena kebiasaan menenggak minuman soda setiap saat layaknya air mineral dan kini punya hobi baru, yakni melahap dua mangkuk mi bakso pedas nyaris setiap hari. Nostalgia memori masa lalu, hingga saling mengolok-olok hal lucu masing-masing, seperti model rambut poni kekinian ala Korea Jupe, panggilan akrab Jufriyanto. Kelakar Firman dan Supardi tentang pengalaman-pengalaman konyol di lapangan acap membuat mereka cekikikan sampai tertawa terpingkal-pingkal.
Tak lupa, mereka juga berbagi suka cita kebersamaan itu dengan menelefon Muhammad Ridwan yang baru saja selesai menjalani sesi uji coba lapangan. Dan selepas waktu salat Jumat, kelima sahabat itu melanjutkan kebersamaan dengan berjalan-jalan dan makan siang di luar hotel.
“Kami sebenarnya selalu saling kontak melalui telefon. Tapi pastinya kangen ngobrol bareng sambil ngopi atau ngeteh seperti ini. Bagaimanapun kami pernah bersama (satu tim) dan mencapai sesuatu yang luar biasa di lapangan dengan berbagai gelar besar. Sayangnya memang harapan saya buyar untuk kembali bersama (di Persib) dengan sahabat-sahabat saya ini. Tapi ya sudahlah, nikmati saja waktu bersama meskipun sudah beda tim,” ujar Firman Utina yang berharap bisa berjumpa dengan Persib di laga final Piala Presiden 2017.
Di tengah perbedaan budaya, usia, hingga agama, persahabatan Firman, Ridwan, Supardi, Jupe, dan Vlado menguat ketika mereka sama-sama membela Persib Bandung. Kekompakan di luar lapangan menularkan kesepahaman kuat untuk membangun harmoni permainan tim. Imbasnya, Maung Bandung menjadi unit yang solid hingha menikmati era kejayaan pada periode itu.
Gelar juara Liga Super Indonesia 2014 yang sudah didambakan selama 19 tahun oleh bobotoh Persib tidak lepas dari kontribusi penting kelima sahabat itu. Mereka juga kemudian bahu-membahu menjadi tulang punggung Maung Bandung merebut trofi kampiun Piala Presiden 2015.
Goncangan kevakuman kompetisi domestik kemudian memisahkan mereka. Vlado memilih tetap setia bersama Persib Bandung sejak pertama kali tiba di Indonesia. Dia mengikuti kata hatinya untuk tetap “biru” meski empat sahabatnya sempat mengajak hijrah ke Sriwijaya FC pada musim 2016. Hingga akhirnya, Piala Presiden 2017 mempertemukan mereka lagi, namun sebagai kubu yang berseberangan.
Jupe dan Supardi kembali menjadi bagian skuat Persib yang menghadapi Mitra Kukar pada babak 8 besar. Ridwan menghabiskan sisa kontrak bersama Sriwijaya yang maju ke babak 8 besar menghadapi Arema FC. Dia juga menunggu penghujung karirnya sebagai pemain. Sementara itu Firman yang sempat berhasrat kembali ke Persib harus mengubur harapannya. Dia akhirnya berlabuh di Bhayangkara FC yang lolos ke perempat final untuk menantang Semen Padang FC.
Vlado yang sangat garang dan temperamental di atas lapangan berubah menjadi sosok sentimental ketika memaknai ikatan emosional dengan sahabat-sahabat karibnya itu.

“Terkadang saya merasa sedih karena kami tidak bisa menghabiskan banyak waktu bersama setiap hari seperti dulu. Tapi inilah dunia kami. Sahabat tidak selamanya bersama dalam tim, suatu saat malah bisa menjadi lawan. Jadi meski sebentar, waktu-waktu berharga seperti ini tak boleh dilewatkan,” ujar Vlado yang tak putus berharap suatu saat mereka berlima dapat kembali dipersatukan di Persib.
Kelima sahabat itu masih memendam keinginan untuk bersama lagi sebagai satu tim. Namun, mereka juga sadar masa itu sudah lewat. Daripada menyesali situasi, menikmati menit demi menit yang singkat untuk bergembira bersama tentu lebih bermanfaat.
Lagipula, kebahagiaan memanglah tentang sikap, bukan soal situasi. Maka menikmati kebahagiaan dalam hal-hal kecil lebih bermakna ketimbang meratapi keadaan yang tak diinginkan. Pilihan itu pula yang diambil oleh Vladimir Vujovic, Firman Utina, Achmad Jufriyanto, Supardi Nasir, dan Muhammad Ridwan di tengah atmosfer persaingan tim mereka masing-masing yang bukan tidak mungkin bakal saling jegal di fase selanjutnya.
Bagaimanapun Piala Presiden 2017 bukanlah melulu tentang perburuan kemenangan di atas lapangan. Setiap detik di sela-sela rutinitas latihan dan pertandingan adalah momen tak ternilai bagi manusia-manusia yang menghargai hangatnya hubungan. Seperti lima sekawan yang dipertemukan takdir di Kota Solo untuk merayakan persahabatan di tengah persaingan.***

amgicom-guatemala.org Bandar taruhan judi bola, poker, tangkas dan Slot Sumber: Pikiran Rakyat